Sejarah Lahirnya Teks Proklamasi, Ditulis Soekarno di Meja Makan Rumah Laksamana Maeda : Okezone Nasional

Berita155 Dilihat

PERISTIWA ‘penculikan’ Soekarno dan Mohammad Hatta ke Rengasdenglok sejak 16 Agustus 1945 merupakan salah satu sejarah paling fenomenal jelang kemerdekaan RI. Penculikan itu demi mendorong keduanya segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.

Kedua tokoh bangsa itu ‘diculik’ pada 16 Agustus subuh. Padahal di hari itu juga, keduanya sudah dijadwalkan menghadiri sidang penting Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Raden Achmad Soebardjo Djojoadisoerjo pun gelisah ketika tak mendapati keberadaan keduanya. Usaha Soebardjo mencari tahu keberadaan Soekarno-Hatta akhirnya berbuah hasil, usai mengontak salah satu pemuda, Soekarni.

BACA JUGA:

Kisah Soekarno-Hatta Pulang dari Dalat Vietnam Diangkut Pesawat Pengebom Kuno 

Dari Soekarni inilah diketahui bahwa Soekarno-Hatta diasingkan, diamankan, diculik atau banyak istilah lainnya, ke Rengasdengklok, sebuah daerah pedalaman di Karawang, Jawa Barat.

Diutuskan Joesoef Koento untuk menemani Soebardjo ke Rengasdengklok. Singkat kata dengan memacu mobil Škoda milik Soebardjo, mereka sampai di tempat tujuan sekira pukul 2-3 sore. Tanpa berlama-lama, Soekarno beserta Fatmawati dan Guntur Soekarnoputra serta Hatta, dibawa pulang ke Jakarta.

Menilik situasi Jakarta saat itu pasca-Jepang menyerah pada sekutu, Soebardjo berinisiatif membawa Soekarno-Hatta ke sebuah rumah besar bergaya Art Deco di jantung kota, rumah perwira penghubung Kaigun (AL Jepang) Laksamana Tadashi Maeda.

Kini, rumah tersebut sudah beralihfungsi sebagai Museum Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol No.1, Jakarta Pusat.

 BACA JUGA:

Soebardjo yang memang bekerja sebagai penasehat di sana, membawa keduanya ke hadapan Maeda, di mana Soekarno-Hatta turut menanyakan kabar soal benar atau tidaknya Jepang sudah menyerah pada sekutu.

“Maeda saat itu mengiyakan, bahwa Jepang sudah kalah perang. Tapi soal janji kemerdekaan, karena Maeda tak berwenang, dia mengatakan sebaiknya ditanyakan pada perwira tertinggi angkatan Perang Jepang di Indonesia, Mayor Jenderal (Moichiro) Yamamoto,” urai kurator Museum Perumusan Naskah Proklamasi, Jaka Perbawa, beberapa waktu lalu.

Baca Juga  Bakal Dirilis, iPhone 15 Punya Fitur Pengisian Cepat 35W : Okezone techno

Tapi Soekarno-Hatta sempat sedikit syok ketika datang ke rumah dinas Yamamoto, sang jenderal yang juga Gunseikan (Kepala Pemerintahan Militer) itu menyatakan situasi sudah berubah dan janji kemerdekaan dari Jepang tak bisa terlaksana.

Baca Juga: Balkon Fest Gelaran Pesta Rakyat untuk Warga Wringinputih


Follow Berita Okezone di Google News


Sejak saat itu dicetuskan langsung bahwa Indonesia secepatnya mesti menyatakan kemerdekaan di saat situasi vacuum of power, sebelum kedatangan sekutu. Kembali diputuskan Soebardjo, mereka harus merumuskan naskah proklamasi di tempat aman. Di mana lagi kalau bukan kembali ke rumah Maeda?

“Mereka tiba sekira jam 12 malam. Maeda mengizinkan Soekarno, Hatta dan Soebardjo untuk menjadikan rumahnya tempat persiapan kemerdekaan Indonesia. Saat itu juga sudah berkumpul sekira 50 orang. Di ruang makan inilah, naskah proklamasi dirumuskan setelah Maeda yang tak mau ikut campur, naik ke lantai atas,” tambahnya.

Tak lama selepas mendapati kertas kecil dan seperangkat alat tulis sederhana, Soekarno menuliskan teks yang saat itu, masih disebut teks pernyataan kemerdekaan di atas meja makan, hasil pemikiran mereka bertiga.

Setelah melewati beberapa kali koreksi dari tulisan tangan Soekarno, lahirlah teks proklamasi itu. Isinya dibacakan terlebih dulu ke hadapan para pemuda. Pemuda kurang setuju soal kata-kata ‘wakil-wakil bangsa Indonesia’, sehingga ada usulan untuk diganti ‘atas nama bangsa Indonesia’.

“Saat itu yang paling lantang mengusulkan Soekarni, baik kata-kata itu, maupun soal siapa yang harus tanda tangan. Hatta sempat ingin seperti Amerika Serikat. Deklarasi kemerdekaan mereka kan ditandatangani semua yang hadir di situ. Tapi pemuda menginginkan hanya Soekarno dan Hatta yang tanda tangan, karena merasa sepak terjang mereka sudah dikenal rakyat,” lanjut Jaka.

Baca Juga  Maaf! Bikin Ngopi Gak Tenang, Harga CPO Terkoreksi 1%

Fase pengetikan jadi hal berikutnya untuk diketik Mohamad Ibnoe Sajoeti Melik dengan ditemani Boerhanoeddin Mohammad Diah. Setelah beberapa kata disunting, teks ketikan itu pun ditandatangani di atas piano dekat tangga.

Sekira pukul 4 pagi semua itu baru rampung, disertai ucapan selamat dari Maeda sendiri. Sempat ada usulan pembacaan teks proklamasi dilakukan di Lapangan Ikada (sekarang Monas). Tapi mengingat situasi keamanan, maka rumah Soekarno di Pegangsaan Timur 56, jadi opsi terbaik.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *