Jelang Libur Natal, Bursa Asia Menghijau, Bakal Happy Ending?

Berita70 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia Mayoritas bursa Asia-Pasifik terpantau menguat pada awal perdagangan Jumat (22/12/2023), menjelang libur Natal 2023 dan investor juga cenderung merespons positif dari rilis data inflasi Jepang periode November 2023.

Per pukul 08:32 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang menguat 0,3%, Hang Seng Hong Kong bertambah 0,31%, Straits Times Singapura tumbuh 0,43%, ASX 200 Australia naik tipis 0,07%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,24%.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China dibuka turun 0,16% pada perdagangan hari ini.

Dari Jepang, inflasinya pada November lalu menunjukkan tanda-tanda penurunan yang lebih jelas, memberikan dukungan bagi pandangan bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) bahwa pertumbuhan harga akan melemah untuk saat ini.

Inflasi Jepang pada bulan lalu turun menjadi 2,8% secara tahunan (year-on-year/yoy), dari sebelumnya sebesar 3,3% pada Oktober lalu. Namun, angka ini lebih tinggi dari perkiraan pasar yang tumbuh menjadi 2,6%.

Sedangkan secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi Negeri Sakura pada bulan lalu mengalami kontraksi bahkan deflasi menjadi -0,1%, dari sebelumnya sebesar 0,7% pada Oktober lalu.

Adapun untuk inflasi inti, yang tidak termasuk bahan makanan segar hanya tumbuh 2,5% (yoy) lalu, melambat setelah akselerasi tak terduga di Oktober karena penurunan biaya energi semakin dalam dan kenaikan harga makanan olahan menurun, Hasilnya pun sesuai dengan perkiraan para ekonom.

Pengukur inflasi berada di bawah pengawasan ketat ketika para ekonom dan investor mencoba menentukan waktu yang mungkin diambil oleh BoJ untuk menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak tahun 2007.

BoJ memutuskan untuk tetap berpegang teguh pada pertemuan kebijakan terbarunya awal pekan ini dan memberikan sedikit indikasi kapan akan menghapus suku bunga negatifnya. Dua pertiga pengamat BoJ memperkirakan akan terjadi perubahan pada April 2024.

Baca Juga  Polisi Bekuk 2 Pencuri Mobil, Satu Pelaku Masih di Bawah Umur : Okezone News

Namun, penurunan harga dapat menjadi perkembangan positif bagi bank, karena hal ini dapat meningkatkan belanja konsumen sehingga mendorong inflasi yang lebih stabil dan didorong oleh permintaan. Alhasil, bank sentral dapat merubah sikapnya menjadi lebih hawkish.

Perekonomian Jepang mengalami kontraksi terdalam sejak puncak pandemi di musim panas, karena konsumen mengurangi pengeluaran di tengah kenaikan harga yang berkepanjangan.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa harga jasa naik sebesar 2,3%, sebuah indikasi bahwa meskipun inflasi mereda, kenaikan harga yang awalnya didorong oleh biaya impor dan bahan baku yang lebih tinggi kini menyebar lebih luas ke dalam perekonomian.

Di lain sisi, pada hari ini merupakan hari terakhir perdagangan pasar saham Asia-Pasifik sebelum libur Natal 2023. Biasanya setelah Natal, pasar cenderung sepi karena pelaku pasar sudah fokus terhadap liburannya.

Bursa Asia-Pasifik yang cenderung menguat terjadi di tengah rebound-nya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street pada perdagangan kemarin.

Indeks Dow Jones ditutup melesat 0,87%, S&P 500 melonjak 1,03%, dan Nasdaq Composite berakhir melejit 1,26%.

Pada perdagangan Rabu pekan ini, Wall Street sempat berjatuhan karena aksi profit taking investor. Namun pada Kamis kemarin, Wall Street kembali bangkit karena optimisme pasar menjelang libur Natal.

“Pasar saham berubah dari naik menjadi turun dengan cukup cepat. Jadi, menurut saya ini adalah koreksi teknis setelah periode waktu yang sangat lama.”,” kata Rhys Williams, kepala strategi di Spouting Rock Asset Management.kepadaCNBCInternational.

Menghijaunya kembali Wall Street terjadi meski data tenaga kerja AS masih cukup panas dan data pertumbuhan ekonomi juga masih baik, meski data finalnya cenderung lebih rendah dari perkiraan awal.

data klaim pengangguran awal AS dalam seminggu yang berakhir pada 16 Desember 2023 tercatat sebanyak 205.000. Nilai tersebutdi bawah dari perkiraan yang proyeksi klaim pengangguran akan sama seperti pekan sebelumnya, yakni sebesar 215.000.

Baca Juga  Bank AS & Eropa Cabut dari RI, Bank di Asia Kok Makin Agresif

Sedangkan data klaim pengangguran berkelanjutan juga lebih rendah dibandingkan konsensus maupun periode sebelumnya yakni sebesar 1.865ribu pada pekan yang berakhir9 Desember 2023.

Untuk diketahui,klaim pengangguran berkelanjutan di AS rata-rata mencapai 2.766,28 ribu dari tahun 1967 hingga 2023, mencapai angka tertinggi sepanjang masa sebesar 23.130 ribu pada bulan Mei 2020 dan rekor terendah sebesar 988.00 ribu pada bulan Mei 1969.

Selain itu, laju pertumbuhan ekonomi AS puntercatat 4,9%secara tahunan pada kuartal ketiga tahun 2023, sedikit di bawah 5,2% pada perkiraan kedua.

Ketiga data di atas mengindikasikan bahwa perekonomian AS tumbuh dengan pesat dan pasar tenaga kerja AS masih panas, hal ini perhatian pelaku pasar karena artinya roda perekonomian AS cukup kencang yang berdampak pada inflasi AS cukup sulit untuk ditekan menuju target The Fed yakni 2%.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bahaya! Bursa Asia Dibuka Kebakaran, Nikkei Ambles 1% Lebih

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *