Bursa Asia Mulai Bangkit, Cuma Shanghai China yang Masih Loyo

Berita98 Dilihat


Jakarta, CNBC Indonesia Mayoritas bursa Asia-Pasifik dibuka menguat pada perdagangan Selasa (9/1/2024), setelah beberapa hari sebelumnya melemah karena investor masih menahan selera risikonya.

Per pukul 08:31 WIB, indeks Nikkei 225 Jepang melonjak 1,53%, Hang Seng Hong Kong menguat 0,23%, Straits Times Singapura naikl 0,18%, ASX 200 Australia melesat 1,09%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,49%.

Namun sayangnya, indeks Shanghai Composite China kembali melemah yakni terkoreksi 0,24% pada awal perdagangan hari ini.

Dari Australia, penjualan ritel pada periode November 2023 melonjak menjadi 2%, dari sebelumnya pada Oktober 2023 yang mencapai kontraksi 0,4%. Angka ini juga mengalahkan ekspektasi para ekonom yang disurvei oleh Reuters sebesar 1,2%.

“Peningkatan yang kuat menunjukkan konsumen menahan belanja di Oktober kemudian dibelanjakan pada November karena banyaknya diskon,” kata Robert Ewing, kepala statistik bisnis ABS di biro statistik Australia, dikutip dari CNBC International.

Robert juga mengatakan bahwa pembeli mungkin juga berbelanja terkait kebutuhan Natal yang biasanya terjadi pada Desember.

Di lain sisi, bursa Asia-Pasifik yang cenderung menguat terjadi di tengah cerahnya bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street kemarin, ditopang oleh kenaikan saham-saham teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup menguat 0,58%, S&P 500 melonjak 1,41%, dan Nasdaq Composite terbang 2,2%.

Investor di AS mengambil posisi di momen buy on weakness pada saham-saham teknologi, sekaligus mereka memanfaatkan momentum turunnya imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Yield US Treasury tenor 10 tahun yang merupakan obligasi acuan pemerintah AS turun 3 basis poin (bps) menjadi 4,012% kemarin, membuat investor kembali memburu saham-saham teknologi.

Baca Juga  Kronologi Kasus Korupsi Taspen, Dirut Dicopot, Istri Diperiksa

Pada pekan ini, investor akan mendapatkan kejelasan lebih besar mengenai jalur penurunan suku bunga The Fed. Inflasi konsumen AS periode Desember 2023 akan dirilis pada Kamis mendatang, sedangkan inflasi produsen akan dirilis pada Jumat.

Kedua data ini akan menunjukkan apakah upaya The Fed untuk menurunkan inflasi hingga 2% berhasil dilakukan.

Selain itu, investor juga mengawasi Washington ketika anggota parlemen berusaha menghindari adanya potensi shutdown pemerintahan AS. Pada Minggu kemarin, para pemimpin Kongres AS mengumumkan kesepakatan yang menetapkan belanja utama sebesar US$ 1,59 triliun.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


Bursa Asia Dibuka Kebakaran, IHSG Kudu Waspada

(chd/chd)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *