Bursa Asia Ijo Royo-Royo, Hanya Nikkei yang Sengsara

Berita148 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia-Pasifik menguat pada awal perdagangan hari ini, Jumat (29/9/2023), di tengah banyaknya data ekonomi yang dirilis kemarin dan hari ini.

Per pukul 08:44 WIB, indeks Hang Seng Hong Kong naik 1,83% ke 17.690,47%, Straits Times Singapura menguat 0,25% ke posisi 3.214,70, dan indeks ASX 200 Australia terapresiasi 0,21% ke 7.039,3.

Indeks KOSPI Korea Selatan juga naik tipis 0,09% ke 2.465,07 dam indeks Shanghai Composite Index menguat tipis 0,1% ke 3.110. Sebaliknya, indeks Nikkei jatuh 0,17% ke 31.809,90.

Pada perdagangan kemarin, indeks Nikkei juga menjadi satu dari sedikit yang berakhir di zona merah. Pada perdagangan Kamis (28/9/202), indeks Nikkei 225 Jepang ditutup melemah dan Hang Seng Hong Kong turun.

Sebaliknya, Straits Times Singapura, indeks Shanghai Composite China, ASX 200 Australia dan KOSPI Korea Selatan menguat.

Menguatnya sebagian besar bursa Asia Pasifik  pada hari ini sejalan dengan bursa Amerika Serikat (AS) Wall Street.

Bursa Wall Street ditutup kompak menguat kemarin. Indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup naik 0,35% Sementara S&P 500 ditutup naik 0,59%  dan Nasdaq berakhir menguat dengan apresiasi 0,83%.

Pelaku pasar Asia mencermati data-data yang dirilis sejumlah negara, termasuk Jepang dan AS.

Pagi hari ini, Jepang mengumumkan penjualan ritel pada Agustus 2023 mereka stagnan di angka 7% (year on year/yoy) sementara secara bulanan (month to month/mtm) hanya tumbuh 0,1%. Pertumbuhan lebih kecil dibandingkan pada Juli yakni 0,2%.

Output sektor industri Jepang juga terkoreksi 3,8% (yoy), lebih dalam diibandingkan kontraksi 2,3% pada Juli 2023. Output lebih rendah dibadinngkan ekspektasi pasar yakni koreksi 3%.

Baca Juga  5 Fakta UMP 2024 Pakai Formula Baru hingga Tuntutan Buruh Naik 15% : Okezone Economy

Melemahnya output industri dan penjualan ritel menandai adanya perlambatan pada ekonomi Jepang.

Kemarin, AS melaporkan jumlah pegawai AS yang mengajukan klaim pengangguran tercatat 204.000 pada pekan yang berakhir pada pekan yang berakhir pada23 September 2023, hanya naik 2.000 dibandingkan pekan sebelumnya. Jumlah tersebut jauh di bawah ekspektasi pasar yakni 215.000.

Data tersebut menambah bukti bahwa pasar tenaga kerja masih panas . Artinya, pasar tenaga kerja masih belum terdampak signifikan dari kebijakan suku bunga tinggi dan masih ada potensi kenaikan inflasi sehingga menambah peluang bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) masih akanhawkishpada November.

[Gambas:Video CNBC]


Artikel Selanjutnya


“Malapetaka” Ekonomi Lewat, Bursa Asia Pasifik Menanjak!

(mae/mae)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *