Ada Efek Penarikan Dividen, Waspada Rupiah Masih Bisa Melemah

Berita142 Dilihat

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah masih tersungkur di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) akibat ketidakpastian global yang meningkat serta efek repatriasi dividen yang memicu aliran dana keluar.

Merujuk dari Refinitiv, rupiah ditutup di angka Rp15.485/US$ atau melemah 0,58% terhadap dolar AS pada perdagangan Selasa (26/9/2023), bahkan di tengah perdagangan rupiah sempat menyentuh level Rp15.500/US$. Posisi ini merupakan yang terparah sejak 10 Januari 2023 atau sekitar delapan bulan terakhir.

Pelemahan rupiah yang terjadi akhir-akhir ini disinyalir akibat ketidakpastian global terutama dari bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) yang potensi masih lanjut hawkish, serta ada efek penarikan dividen.

“Untuk rupiah selain aspek global sebagai penyebabnya, juga ada dampak dari repatriasi dividen,” ungkap Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI), Edi Susianto kepada CNBC Indonesia, Selasa (26/9/2023)

Dari sisi global, Edi menjelaskan bahwa pelaku pasar masih merasakan ketidakpastian atas kebijakan bank sentral AS Federal Reserve (Fed). Suku bunga acuan AS dinilai masih berpotensi naik satu kali sampai akhir tahun.

Hal ini The Fed lakukan untuk memenuhi target inflasi AS yakni 2%. Untuk diketahui, AS mencatatkan inflasi sebesar 3,7% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Agustus 2023, naik dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,2% yoy.

Selain itu, ekonomi China, Eropa dan Jepang yang diperkirakan melemah turut menjadi sentimen negatif bagi investor. “Apa yang terjadi di Eropa, China dan Jepang ikut mendorong penguatan US dollar,” imbuhnya.

Sementara itu dari dalam negeri, ada aktivitas repatriasi dividen dari sederet perusahaan. Edi menuturkan nilainya lebih besar dibandingkan dengan bulan sebelumnya, meski lebih rendah dari Mei 2023.

Baca Juga  Ini yang Terjadi saat Supermoon Menurut Anak Indigo : Okezone Lifestyle

“Akhir bulan ini ada kebutuhan US dollar juga khususnya untuk repatriasi, hal ini juga ikut mendorong pelemahan rupiah,” tegas Edi.

Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro menambahkan, periode pencairan dividen setiap tahunnya terjadi pada Mei dan September 2023. Mei untuk dividen pertengahan tahun, sedangkan September keseluruhan tahun.

Permintaan dolar AS di dalam negeri akan meningkat 1-2 bulan sebelum pencairan dividen. Ini juga yang menjadi alasan rupiah berada dalam tren pelemahan hingga saat ini, selain efek sentimen global.

“Ketika ada kebutuhan tersebut maka permintaan dolar AS akan meningkat dibandingkan biasanya,” kata Putera.

Bank Indonesia (BI) menyatakan pelemahan ini terjadi sementara. Fundamental ekonomi dalam negeri yang semakin membaik akan mendorong penguatan rupiah ke depannya. “BI terus mengawal dan berada di pasar untuk memastikan keseimbangan supply-demand valas di pasar terjaga,” sambung Edi.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro juga memprediksi ke depan rupiah akan kembali menguat ke target Rp14.500/US$ akibat ekspektasi pasar yang memperkirakan bank sentral AS akan menurunkan suku bunga.

“Ketika suku bunga akan turun, pasar akan melihat yang high yield nya tinggi seperti apa, oh di emerging market, berarti kita sudah mulai risk on untuk masuk lagi ke emerging market, itulah yang kemudian akan memberikan sentimen positif untuk currencies emerging market” Ungkap Andry kepada CNBC Indonesia.

Teknikal Rupiah

Secara teknikal dalam basis waktu per jam, gerak rupiah masih dalam tren pelemahan, posisi resistance di Rp15.500/US$ yang bertepatan dengan level psikologisnya perlu dicermati karena potensi masih bisa diuji sebagai pelemahan rupiah terdekat.

Di sisi lain, posisi support terdekat berada di Rp14.460/US$ yang berdekatan dengan garis rata-rata selama 20 jam atau moving average 20 (MA20). Posisi ini perlu diperhatikan apabila ada pembalikan arah bisa dijadikan target penguatan dalam jangka pendek.

Baca Juga  Pasar Wait and See Inflasi AS, Wall Street Dibuka Variatif




Foto: Tradingview
Pergerakan rupiah melawan USD

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected] 

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbal dari keputusan tersebut.

[Gambas:Video CNBC]



Artikel Selanjutnya


Breaking News: Rupiah Anjlok & Tembus Level Rp 15.000/USD

(tsn/tsn)


Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *