7 Fakta LRT Jabodebek Dinilai Salah Desain, Kok Bisa? : Okezone Economy

Berita186 Dilihat

JAKARTA – Lengkung Bentang Panjang (Longspan) Lintasan Rel Terpadu (LRT) menjadi perbincangan Masyarakat, karena dinilai salah desain.

PT Adhi Karya Tbk selaku kontraktor LRT ini, dinilai kurang melakukan pengecekan kemiringan rel, setelah longspan dibangun khususnya di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Hal tersebut mengakibatkan adanya perubahan kecepatan dimana kereta sedikit melambat, tikungan pada jembatan yang menghubungkan Gatot Subroto dan Kuningan menjadi kecil. Seharusnya, tikungan rel dibuat lebih lebar agar kecepatan kereta tetap stabil.

Berikut ini, Okezone merangkum mengenai fakta LRT Jabodebek yang dinilai salah desain. Senin (7/8/2023).

1. Konsultan Desain LRT

Pada sebelumnya, terdapat tiga konsultan yang terlibat dalam desain longspan LRT Jabodebek, di antaranya berasal dari Perancis, Systra. Namun, mega proyek transportasi massal ini harus dipercepat, sehingga pemerintah memberikan kepercayaan kepada Arvila Delitriana, konsultan Indonesia lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Waktu saya masuk, LRT Jabodebek itu punya beberapa konsultan perencana. Ada dari Perancis, ITB dan ITS. Karena sudah ada tiga konsultan, namun karena proyek ini butuh percepatan, masuklah saya lewat Pak Ujang ini yang kebetulan Pimpinan proyek (Project Manager),” ujar Arvilla.

2. LRT yang Ingin Diselesaikan Dengan Cepat

Pemerintah menginginkan supaya transportasi massl ini dapat selesai dengan cepat, sehingga mereka memberikan kepercayaan kepada Arvila Delitriana, konsultan Indonesia lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Waktu saya masuk, LRT Jabodebek itu punya beberapa konsultan perencana. Ada dari Perancis, ITB dan ITS. Karena sudah ada tiga konsultan, namun karena proyek ini butuh percepatan, masuklah saya lewat Pak Ujang ini yang kebetulan Pimpinan proyek (Project Manager),” ujar Arvilla.

3. Terdapat Beberapa Opsi Mengenai Desain LRT Sendiri

Dengan argumentasi yang kuat, Alvira menambahkan opsi keempat, tanpa Pier atau tiang di tengah lengkungan. Seorang konsultan asal Jepang mengatakan bahwa hal itu mustahil dan sulit dilakukan, kalau bisa disambung tanpa tiang, kontraktor Adhi Karya tidak akan bisa.

Baca Juga  SRBI Raup Dana Rp37 T, Asing Borong di Pasar Sekunder

“Tapi saya berkeyakinan bahwa setiap jembatan memang punya resiko ya masing-masing. Tapi selama perhitungannya tepat saya yakinkan bahwa itu bisa dilakukan,” ucapnya.

Alvira berargumen dengan menggunakan Pier atau tiang di tengah lengkung sepanjang 148 meter dibantahnya sebab di bawah jembatan lengkung terdapat dua ruas jalan yang saling berhimpitan, tepatnya Jalan Gatot Subroto dan Jalan Tol Layang.

“Nah jalan yang berhimpitan itu kalau dibangun pondasi untuk Pier bisa rawan getaran kalau sewaktu-waktu ada gempa kecil. Makanya saya berkeyakinan dibangun saja tanpa tiang di tengah. Tentu perhitungannya harus tepat dengan menambah banyak gaya dalam perhitungannya,” jelasnya.

Menurutnya, setiap enginer tak pernah bisa meremehkan pembangunan atau perencanaan suatu struktur atau bangunan jembatan sekalipun. Jika alasannya, berbahaya dan penuh resiko, maka seharusnya semua pembangunan jembatan punya resikonya sendiri-sendiri.

“Jadi waktu itu saya lawan argumen dari konsultan Jepang. Saya menyakinkan bahwa bisa pasang bentangan tanpa tiang. Dan alhamdulillah, dengan perhitungan matang, semua berjalan sesuai rencana,” katanya.

4. Saat Peresmian LRT

Saat peresmian, Alvira memang tak bisa hadir di acara Seremoni yang dihadiri empat menteri sekaligus, diantaranya Menko Luhut Binsar Panjaitan, Menteri PUPR Basuki Hadimoeljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi serta Menteri BUMN Erick Thohir. Alvira beralasan ada urusan kantor yang tidak bisa ditinggalkan.

Ketika konsultan asal Perancis Systra mempertanyakan masterpiece proyek yang kurang lebih sama dengan jembatan longspan lengkung LRT ini, Alvira merujuk pada proyek Jembatan Lingkar Semanggi yang dibangun semasa kepemimpinan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Dia mengatakan tingkat kesulitannya kurang lebih sama, bahkan dengan lengkung yang lebih karena melingkar. “Pada akhirnya saya bisa menunjukkan bahwa jembatan longspan dengan kasus serupa ini pernah dikerjakan oleh anak bangsa juga,” jelasnya.

Baca Juga  Pentingnya Mengetahui Peran Bank Indonesia Karawang

5. Menurut MenHub, Itu Bukan Salah Desain

Menhub menegaskan bahwa longspan Gatsu-Kuningan tersebut tidak salah desain. Melainkan longspan tersebut adalah solusi desain yang memungkinkan dengan kondisi wilayah tersebut.

“Saya tidak ngomong salah dan benar, tetapi adalah suatu kelaziman pada satu tikungan harus ada solusi,” kata Menhu di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (3/8/2023).

“Coba bayangin kalau di tengah-tengahnya ada kolom, atau dibikin segi empat, suruh berhenti? ya itu solusi desain yang optimum, saya tidak katakan itu maksimum, jadi kalau saya bisa katakan tidak salah, itu adalah solusi desain,” tambahnya.

6. Kriteria yang Harus Dipenuhi Saat Melaju Longspan

Menhub dan pihaknya, akan memberikan sejumlah kriteria yang harus dipenuhi saat melaju pada longspan tersebut.

“Saya akan memberikan suatu rambu-rambu, apa yang harus dipenuhi, rambu pertama adalah safety, kedua security, ketiga ketepatan waktu. Jadi kalau nanti kita 43 menit, ya 43 menit, nggak boleh goyang, mau di situ 20 km/jam, 40 km per jam, harus dikompensasi pada jarak-jarak yang lain ya,” katanya.

7. Bukan Sebuah Kesalahan Melainkan Ketentuan

Menurut Djoko Setijowarno, saat membahas mengenai adanya perbedaan kecepatan yang terjadi saat melewati longspan di Kuningan yang dianggap bermasalah. Padahal itu bukanlah sebuah kesalahan melainkan ketentuan.

“Apakah dia berbelok di tikungan tetep kenceng, tidak kan, dia akan ngerem, sebenernya gitu aja. Jadi kalau seumpamanya itu gak layak, ya dari dulu gak akan dioperasikan. Dia akan menyesuaikan geometriknya. Ya nggak apa-apa sih, pelan-pelan kan liat pemandangan kota,” ujarnya kepada Okezone.

“Ini Ketentuan bukan Kesalahan,” tambahnya.

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis Okezone.com tidak terlibat dalam materi konten ini.

Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *